Rabu, 02 Desember 2015


Mengapa Sedih Ketika Praktik Menulis ?
Menulis adalah keteramapilan yang bersifat mekanistik. Keterampilan itu tidak mungkin dikuasai hanya melalui teori saja. Keterampilan tersebut baru dapat dikuasai oleh orang yang rajin berlatih (Tarigan : iii).
Latihan seperti yang dinyatakan oleh Djago Tarigan tersebut sebenarnya sudah saya lakukan dengan senang hati. Hanya saja belum semaksimal yang dimaksmud. Namun, jika ditanya mengapa saya sedih ketika praktik menulis ? Berati mau tidak mau saya harus memberikan suatu jawaban, yang bagi saya jawaban ini merupakan suatu kendala saya ketika praktik menulis.
Pertama, saya mengalami kesulitan untuk memadukan ide pikiran saya ke dalam suatu tulisan. Apa yang ada dipikiran saya terkadang tidak dapat saya tuangkan dalam tulisan secara sistematis dan logis yang sesuai dengan harapan saya.
Kedua, pikiran saya tidak bisa berjalan maksimal jika menulis dalam suatu ruangan yang gaduh. Saya memerlukan tempat dan suasana yang tenang untuk menulis. Oleh karena itu, pada waktu dosen menyuruh saya membacakan hasil karangan saya, terkadang saya belum selesai.
Ketiga, pikiran saya tidak dapat bekerja maksimal jika dipaksa untuk mengeluarkan suatu ide tulisan dalam waktu yang dibatasi. Pikiran saya seolah-olah tergesa-tergesa jika dipaksa untuk menulis sesuatu pada waktu dan tempat yang ditentukan dapalagi engan suasana yang gaduh. Inti dari semuanya bahwa dalam menulis saya masih terkesan lamban dan belum dapat memfungsikan secara maksimal skemata yang ada.