Mengapa Sedih Ketika Praktik Menulis ?
Menulis adalah
keteramapilan yang bersifat mekanistik. Keterampilan itu tidak mungkin dikuasai
hanya melalui teori saja. Keterampilan tersebut baru dapat dikuasai oleh orang
yang rajin berlatih (Tarigan : iii).
Latihan seperti yang
dinyatakan oleh Djago Tarigan tersebut sebenarnya sudah saya lakukan dengan
senang hati. Hanya saja belum semaksimal yang dimaksmud. Namun, jika ditanya
mengapa saya sedih ketika praktik menulis ? Berati mau tidak mau saya harus
memberikan suatu jawaban, yang bagi saya jawaban ini merupakan suatu kendala
saya ketika praktik menulis.
Pertama,
saya mengalami kesulitan untuk memadukan ide pikiran saya ke dalam suatu
tulisan. Apa yang ada dipikiran saya terkadang tidak dapat saya tuangkan dalam
tulisan secara sistematis dan logis yang sesuai dengan harapan saya.
Kedua,
pikiran saya tidak bisa berjalan maksimal jika menulis dalam suatu ruangan yang
gaduh. Saya memerlukan tempat dan suasana yang tenang untuk menulis. Oleh
karena itu, pada waktu dosen menyuruh saya membacakan hasil karangan saya,
terkadang saya belum selesai.
Ketiga,
pikiran saya tidak dapat bekerja maksimal jika dipaksa untuk mengeluarkan suatu
ide tulisan dalam waktu yang dibatasi. Pikiran saya seolah-olah tergesa-tergesa
jika dipaksa untuk menulis sesuatu pada waktu dan tempat yang ditentukan
dapalagi engan suasana yang gaduh. Inti dari semuanya bahwa dalam menulis saya
masih terkesan lamban dan belum dapat memfungsikan secara maksimal skemata yang
ada.
